SEJAK KAPAN MARGA NABABAN ITU ADA ?
Di dalam kehidupan sosial dan pergaulan Orang Batak, masing-masing orang yang semarga perlu mengetahui silsilah dan nomor silsilah masing-masing. Kenapa silsilah perlu diketahui ? adalah untuk membedakan teman semarga yang kita hadapi itu apakah merupakan haha doli (abang) atau anggi doli (adik). Sedangkan gunanya mengetahui nomor silsilah adalah agar kita mengetahui apakah teman semarga yang kita hadapi itu termasuk golongan Bapak, Kakek, Anak atau Cucu.
Nomor silsilah nenek moyang kita, Borsak Mangatasi adalah nomor 1. Nomor silsilah anaknya adalah nomor 2, sedangkan cucunya adalah nomor 3, demikian seterusnya. Apabila seorang memiliki silsilah bemomor 15, maka ia akan menyebut marga Nababan bemomor silsilah 14 sebagai Bapak dan yang bemomor silsilah 15 sebagai Anak, nomor 16 adalah cucu.
Dengan memperhatikan nomor silsilah bermarga Nababan di Bonapasogit, nomor silsilah generasi Nababan yang hidup sekarang bervariasi, mulai dari nomor 14 sampai dengan nomor 22, nomor 21 sudah banyak di Desa Lumbantongatonga dan Desa Paniaran turunan dari Oppu Sandar Nagodang, sedangkan nomor 14 masih ada yang hidup sampai sekarang di Dusun Sibuntuon, Desa Sitabotabo turunan dari Oppu Tuan Sirumonggur satu keluarga lagi suami/istri. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa marga Nababan sudah ada sejak sekitar 4- 6 abad yang silam.
DI MANAKAH TEMPAT BERMUKIM MARGA NABABAN ?
Semula, Sihombing bermukim di Pulau Samosir. Mungkin untuk memperoleh ruang hidup yang lebih baru dan lebih baik ia bersama keempat anaknya: Silaban, Lumbantoruan, Nababan, dan Hutasoit pindah ke Tipang, seberang Danau Toba. Tipang terletak di pinggir pantai, selatan Danau Toba, pada tanah pesisir yang sempit, dikelilingi perbukitan yang cukup, tinggi di sebelah selatan, tidak jauh dari Bakkara –tempat pemukiman Raja Sisingamangaraja.
Keluarga Sihombing beserta anak-anaknya cepat berlipat ganda di Tipang, hal ini membuat lahan persawahan dan pertanian yang terasa kurang. Oleh sebab itu, sebagian keturunan Sihombing berimigrasi (pindah) ke dataran tinggi, atau disebut juga Humbang, Semula, keturunan Nababan mendirikan kampung di Sipultak yaitu Oppu Domi Raja, kemudian pindah ke Balige, kemudian kembali lagi ke Sipultak, Oppu Domi Raja mempunyai anak 2 orang, yaitu anak pertama Sandar Nagodang ke Lumban Patik, anak ke dua Tuan Sirumonggur ke Sitabotabo, dari daerah inilah secara bertahap keturunan Nababan berpencar di berbagai daerah dataran tinggi Humbang, yaitu:
1. Nagasaribu, Lintongnihuta dan sekitarnya
2. Butar Toruan (Lumbantongatonga, Paniaran dan Lumban Motung) sekitarnya
3. Sitabotabo dan sekitarnya
4. Sipultak dan sekitarnya
5. Hitetano, Tobasa.
Di dua daerah ini pertama bermukim keturunan Sandar Nagodang di Lumbantongatonga, Di Sitabotabo Tuan Sirumonggur.
Perlu juga diketahui tempat pemukiman ketiga marga keturunan Sihombing (Silaban, Lumbantoruan dan Hutasoit) di Humbang, yaitu:
1. Silaban di Silabanrura, Butar dan Sijamapolang Humbahas.
2. Lumbantoruan di Lintong Nihuta, Sipultak, Butar Dolok, Bahalbatu, Sibaragas dan sekitarnya.
3. Hutasoit di Silait-lait, HCB , Lintongnihuta, dan sekitarnya.
Untuk beberapa abad, persawahan dan pertanian di tempat pemukiman Nababan masih terasa cukup. Akan tetapi, seiring dengan percepatan pertumbuhan keturunan Nababan yang cepat berlipat ganda, persawahan dan pertanian pun semakin terbatas. Sejak itulah keluarga-keluarga Nababan bermigrasi ke tempat lain. Pada masa Perang Kemerdekaan, perpindahan keluarga-keluarga Nababan makin meningkat ke daerah Sidikalang Dairi, Kotacane, Aceh Tenggara, Desa Silangkitang Pahae Jae, Hitetano Porsea dan ke daerah lainnya di Nusantara. Secara bertahap hingga sekarang keluarga-keluarga Nababan (terlebih generasi mudanya) banyak yang pindah ke tempat lain, tersebar hingga ke kota-kota besar dan pulau-pulau lainnya di Indonesia.
Akibatnya sekarang, banyak kampung di Humbang, daerah asal Nababan, mayoritas penduduknya adalah orang-orang yang sudah tua. Banyak para pemuda meninggalkan kampung halamannya untuk sekolah atau untuk memperoleh hidup yang lebih baik. Di Jakarta misalnya, mereka mempunyai Parsadaan (perkumpulan) yang diberi nama Parsadaan Borsak Mangatasi Nababan Dohot Boru & Bere Jabotabek dan sekitarnya. Di Medan sekitarnya, di Palembang, di Semarang dan daerah lainnya.
Minggu, 27 Desember 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar